MediaSuaraMabes, Pesawaran — Harapan ratusan petani di Kecamatan Punduh Pedada, Kabupaten Pesawaran, untuk mempertahankan lumbung padi mereka terus diuji. Tanggul irigasi yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat kembali jebol saat musim hujan, mempertegas bahwa sistem irigasi manual tanpa campur tangan pemerintah sulit untuk diandalkan.
Kerusakan tanggul tersebut bukan kali pertama terjadi. Warga menyebut, selama lima tahun terakhir, tanggul di Desa Sukajaya Kecamatan Punduh pedada berada di kawasan sawah itu berulang kali jebol setiap kali hujan deras dan banjir datang.
Ironisnya, hingga kini belum ada sentuhan nyata dari pemerintah, baik melalui dana desa, APBD kabupaten, maupun bantuan dari pemerintah provinsi.
Padahal, jalur irigasi tersebut menjadi urat nadi pertanian bagi warga dari empat desa, yakni Desa Batu Raja, Banding Agung, Rusaba, dan Kota Jawa. Ratusan hektare sawah menggantungkan pasokan air dari saluran tersebut untuk menunjang masa tanam padi.
“Setiap musim hujan kami sudah sadar, pasti jebol lagi. Tapi kalau tidak diperbaiki, lumbung padi kami akan gagal panen,” ujar Hadi salah satu warga yang ikut gotong royong, Minggu (11/01/2025) saat melakukan gotong royong di lokasi.
Meski dibayangi risiko gagal panen, ratusan masyarakat tetap bergotong royong memperbaiki tanggul secara swadaya. Mereka berharap upaya tersebut setidaknya dapat menahan aliran air agar padi bisa dipanen dengan hasil yang memadai.
Namun, keterbatasan alat dan material membuat perbaikan bersifat sementara. Sepanjang sejarahnya, bantuan alat berat baru sekali datang, itupun berasal dari pimpinan Pondok Pesantren Albina, Romli, serta dukungan kontraktor jembatan beberapa waktu lalu. Selebihnya, masyarakat berjuang dengan peralatan seadanya.
Seperti sawah yang Atakh Ungak sendiri akibat seringnya tanggul jebol, sebagian sawah kini tak lagi produktif. Lahan pertanian yang dulunya ditanami padi berubah menjadi belukar, bahkan banyak yang beralih fungsi menjadi kebun pisang dan kelapa. Kondisi ini telah berlangsung bertahun-tahun dan terus meluas.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Pesawaran turun langsung meninjau lokasi. Mereka menilai, jika pemerintah hadir dan mengalokasikan anggaran melalui APBD, tanggul dapat dibangun secara permanen dan kokoh.
“Kalau pemerintah datang melihat langsung, mungkin keadaannya bisa berubah. Kami hanya ingin tanggul yang kuat agar bisa bertani dengan tenang,” kata warga lainnya di desa Sukajaya Pidada.
Harapan tersebut sejalan dengan program nasional ketahanan pangan yang menjadi prioritas Presiden Republik Indonesia. Masyarakat menilai, tanpa perbaikan infrastruktur irigasi yang memadai, upaya menjaga ketahanan pangan di tingkat daerah akan sulit terwujud. (Adi S)
