MediaSuaraMabes, Bukittinggi – Ratusan warga RW 01 Banto Laweh, Kelurahan Kayu Kubu, Kecamatan Guguk Panjang, menyambut penuh antusias kedatangan Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat Komisi II Asril, SE Angku Andaleh (Partai NasDem) dengan iringan tabuhan Tambua Tasa pada Kamis (5/2/2026). Sambutan adat istiadat yang kerap menghiasi alek nagari menjadi bukti bahwa agenda reses perseorangan di Dapil Sumbar III bukan sekadar aktivitas politik dalam nuansa formal semata.
Di kawasan bibir Ngarai Sianok yang dikenal rawan, strategis, dan sensitif, acara dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat – mulai dari Ketua DPD NasDem Kota Bukittinggi Zulhamdi Nova Chandra, Pangulu Alam, Bundo Linda Zubir, Camat Guguk Panjang Siti Mariah, lurah setempat, tokoh masyarakat, pemuda, Bundo Kanduang, hingga kader PKK dalam suasana ramai.
“Reses bukan sekadar agenda formal. Selain menjemput aspirasi, ini adalah bentuk kepedulian Pak Asril terhadap masyarakatnya. Setiap usulan akan kami bawa ke parlemen,” tegas Siti Mariah dalam sambutannya.
Zulhamdi Nova Chandra yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD Kota Bukittinggi mendorong warga untuk berani bersuara. “Sebagian besar kampung kita berada di bibir Ngarai Sianok. Jangan sungkan sampaikan semua keluhan dan kendala kepada Pak Asril,” ujarnya.
Asril Angku Andaleh mendengar dengan seksama sambil mencatat satu persatu aspirasi yang disampaikan.
“Saya mendapat banyak dukungan di kawasan ini pada pemilihan lalu – itu menjadi kewajiban untuk kembali. Staf khusus telah siap mencatat seluruh data dan masukan. Semua kendala akan saya perjuangkan hingga ke tingkat Gubernur,” janjinya, menegaskan bahwa setiap aspirasi akan ditindaklanjuti selama tidak bertentangan dengan rul dan regulasi serta sesuai kemampuan keuangan daerah.
Permasalahan yang paling mencuat adalah usulan pembangunan turap penahan tebing Ngarai Sianok yang selama ini belum pernah lolos di Musrenbang Kota.
“Kawasan ini sangat berpotensi longsor, namun poin ini selalu terhenti di tingkat kota. Kami sangat berharap bantuan dari pemerintah provinsi,” ujar Ketua LPM Kayu Kubu Jefrey Keulana mewakili masyarakat.
Reses hari itu bertransformasi dari temu wicara menjadi panggung kejujuran – di mana kekhawatiran soal keselamatan lingkungan bertemu dengan janji politik yang ditagih langsung.
Beragam aspirasi masyarakat lainnya mulai dari kebutuhan infrastruktur, perbaikan sistem keuangan, hingga pengembangan sumber daya manusia muncul dalam diskusi terkait pembangunan kawasan sekitar Ngarai Sianok.
Beberapa poin utama lainnya menjadi fokus perhatian, di antaranya usulan penambahan fasilitas toilet (WC), pemasangan CCTV untuk pengawasan lapangan, serta klarifikasi regulasi terkait zona 50 meter di bibir ngarai.
Hal lainnya usulan untuk mengakhiri jebakan dalam bunga tinggi dari rentenir. yang dijawab melalui Koperasi Merah Putih.
Aspira lainnya, dalam bidang pengembangan SDM dan literasi, digagas konsep pembangunan ruang bacaan yang alami sekaligus menjadi tempat penjualan dan fasilitasi miniama (mini pasar) serta pasar buku bekas.
Konsep ini diharapkan tidak hanya meningkatkan minat baca masyarakat, tetapi juga menjadi sarana ekonomi kreatif bagi pelaku usaha lokal.
Tak hanya itu, juga direncanakan pelaksanaan pelatihan ketrampilan yang fokus pada sektor pariwisata, termasuk materi tentang penataan pasar, serta kemampuan publik speaking untuk meningkatkan kapasitas warga dalam menghadapi potensi pertumbuhan industri pariwisata di sekitar Ngarai Sianok.
Masyarakat berharap semua usulan ini diharapkan dapat menjadi bagian dari perencanaan pembangunan yang lebih terintegrasi, menjawab kebutuhan dasar masyarakat sekaligus membuka peluang kemajuan ekonomi dan kesejahteraan.
(FK/Yaman Lbs)
