MediaSuaraMabes | Grobogan – Achmad Yani Wahid, putra asli kelahiran Desa Kemiri, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, lahir di Semarang pada 5 Mei 1954. Di kampung halamannya, ia lebih dikenal dengan nama kecil Mulyani, putra dari Mbah Abdul Wahid. Sejak masa muda, ia telah menampikan keunggulan — pernah menjadi juara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Kabupaten Grobogan, tanda kecintaan dan kedekatannya dengan Al-Qur’an sejak dini.
Perjalanan hidupnya menjadi jembatan yang menghubungkan banyak dunia. Ia berperan penting merajut pertemuan gagasan antara kelompok Saudi (Imran dan kawan-kawan) dengan kelompok Cimahi–Bandung (para pemuda masjid), yang kemudian melahirkan apa yang dikenal sebagai Jama’ah Imran. Hubungan kedekatannya dengan Imam Imran bin Muhammad Zein menjadikannya salah satu tokoh kunci di balik pergerakan tersebut.
Namun perjuangannya tak selalu berjalan mulus. Ia termasuk aktor intelektual di balik peristiwa Jama’ah Imran hingga peristiwa pembajakan pesawat Woyla. Akibatnya, ia harus menjalani masa penjara selama hampir 11 tahun. Di balik jeruji besi pun, kisah hidupnya berlanjut: di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, ia menikah dengan Yulie Panti Agristini, seorang aktivis jilbab angkatan pertama di Jakarta. Dari pernikahan itu, lahir putra mereka, Achmad Zidan Novanto, yang akrab disapa Ofan.
Setelah masa bebas, ia tak membiarkan dirinya tenggelam dalam kepahitan. Justru, ia bangkit dan menyalurkan pemikirannya lewat tulisan. Ia menjadi penulis yang produktif, sekaligus aktif dalam kegiatan sosial keagamaan — dengan cita-cita luhur: menciptakan kedamaian di antara sesama anak bangsa.
Pengabdiannya terus berlanjut. Ia sempat menjadi staf khusus pimpinan Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyah, Hj. Tutty Alawiyah AS menteri peranan wanita masa Orde Baru, serta menjadi rekan kerja strategis politisi Islam A.M. Fatwa, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPR. Ia turut menjadi tokoh di balik Gerakan Ishlah Nasional, yang dideklarasikan tahun 1998 oleh mantan Pangdam Jaya sekaligus Kepala BIN, A.M. Hendropriyono.
Bersama rekan satu perjuangannya, Lukman Syamra, ia menikmati sisa hidupnya sebagai penulis, mubaligh, dan politisi yang memimpikan satu hal: membuka keberkahan Islam bagi semua — sebuah Islam yang inklusif, merangkul, dan damai.
Pemikirannya dituangkan ke dalam karya-karya yang dikenal luas: SBY dan Resolusi Konflik (2004), Lima Hari Mandat Maklumat, serta Haji dan Umroh.
Ketika reformasi membuka pintu kebebasan politik, ia mendirikan Partai Republik dan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal. Ia dikenal dekat dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan menjadi salah satu yang merumuskan naskah-naskah awal berdirinya Partai Demokrat. Ia juga menjabat Ketua Presidium Gerakan Masyarakat Pemilih (GMP), yang pada Pemilihan Presiden 2004 berdiri sebagai Tim Relawan SBY.
Ia telah pergi, namun jejak pemikirannya, semangatnya, dan doa-doa yang ia rajut tetap tertinggal — sebagai bukti bahwa seorang putra kampungan dari Kemiri mampu menulis namanya dalam sejarah perjuangan bangsa, bukan dengan kekuatan senjata, melainkan dengan nalar, kasih, dan keinginan tulus untuk menyatukan hati.
Reporter: Arief RH





